Ada Nando di Antara Kita
“Antara
bingung, ketakutan, aku akhirnya nyungsep ke tong sampah”
Lari pagi… Teettt! Lari pagi.. Teettt!
Huah, hari ini cuacanya cerah
banget. Makanya aku bisa bangun pagi dan lari keliling kompleks kayak sekarang.
Jarang-jarang juga kejadian ini terjadi. Ibarat kata, hujan guntur kali yang
bakalan turun ntar sore saking gak pernahnya aku bangun sepagi ini.
“Noah? Nice to meet you. Kesambet setan apa loe bisa gue temuin disini?”
“Semalem gue dapat ilham kalau gue mau
ketemu jodoh gue disini, tha”
“Jodoh?” tanya Tita masang tampang
polosnya.
Sementara aku langsung
manggut-manggut.
Melihatku mengangguk, Tita melepas
ketawa ngakaknya. Respon balik yang sungguh gak mendukung. Huh, jadi bete.
“Kenapa loe ketawa?”
“Ya habisnya elo. Segala jodoh aja
pakai acara dapet ilham dulu. Woi, muke loe tuh benerin dulu. Kasi baut kek,
tambel pake benang kek biar agak rataan dikit”
Aku mendorong tubuh Tita pelan,
“Akh, elo bukannya ngedukung gue”
Tita ngikik lagi. Kali ini bukan hanya
ngikik, tapi juga masang tampang aneh bersama pandangannya disamping kakiku.
Aku curiga dengan tatapannya itu, makanya aku langsung noleh kebawah.
“Mamaaaaaaaaakkkkkkk...!” teriakku
heboh dan ngumpet spontan dibelakang punggung Tita ketika kulihat seekor anjing
sudah menggoyang-goyangkan ekornya disampingku.
Tita malah tambah gawat ngakaknya.
“Hush, hush. Ya ampuuunnn, itu
anjingnya siapa sih, thaaaa?”
“Ye
menekutehe”
“Jauh-jauh loe, njing! Muka loe
seram”
“Heh! Ini anjing tuh mukanya lebih imut
dari muka loe tahu gak. Kalau anjingnya terawat gini, biasanya yang punya
orangnya cakep atau cantik gitu, shob”
“Bodo amat, mau cakep, mau cantik.
Jauhin dia dari gue!”
Karena tersinggung, itu anjing malah
menyalak kearahku.
“Tuu, kan, tha. Ini anjing emang galak
banget”
“Gak, dia gak galak kok” tiba-tiba
muncul seorang perempuan cantik yang langsung memasang rantai digantungan leher
anjing aneh didepanku. Ih wow, cantik banget nih cewek.
“Maaf ya, Nando udah bikin kalian
takut”
“Bukan gue, tapi orang gila ini yang
takut sama anjing loe. Apa sih, Noah? Orang anjingnya lucu gini juga. Eh,
namanya Nando ya, mbak?”
Cewek itu mengangguk, “Nando emang
cepet akrab sama orang yang baru dikenal, makanya jadi SKSD, sok kenal sok
deket. Kalian anak-anak kompleks sini ya?”
“Ya, nama gue Titta. Temen gue ini
namanya Noah”
“Salam kenal ya, nama gue Bunga”
“Akh, ya ampun. Nama sama orangnya
sama-sama cantik” pujiku pada Bunga.
Nando menyalak kearahku untuk kedua
kalinya. Kayaknya dia cemburu berat ketika mendengar rayuanku pada Bunga.
Buset, galakkan satpamnya.
“Gue tinggal dirumah paling ujung,
baru pindah kemarin”
Yesss,
gak rugi bangun pagi-pagi begini kalau aku bakalan ketemu sama cewek secantik
bunga. Mudahan aja dia masih jomblo. Amin.
“Gue duluan ya. Abang gue udah
nunggu soalnya” Bunga agak sedikit terburu-buru nampaknya. Tapi gak apa-apa
deh, yang penting hasil jualanku laku nantinya. Hehe.
“Bunga” panggilku hingga membuat
Bunga menoleh, “Kapan-kapan aku main kerumahmu ya?”
Bunga langsung mengangguk. Oh My God. Senyumnya manissss.
Kembali pada obrolan sebelum anjing
sialan itu muncul, “Tuh kan, tha. Firasat gue tentang jodoh gue yang bakalan
muncul udah pasti gak salah. Bunga itu jodoh gue”
Tita mengerutkan kening, “Lagumu, cah, cah. Mana mau cewek
secantik Bunga dijodohin karo wong tengil
kayak sampean. Mimpi ndaq usah tinggi-tinggi tho, lhe!”
“Biarin” aku langsung memonyongkan
bibirku dan ngeloyor pulang.
***
Masih penasaran sama Bunga, aku
akhirnya memberanikan diri main kerumahnya. Ngintip-ngintip dulu ah, siapa tahu
bapaknya galak.
Kulangkahkan kakiku mengendap-endap
mendorong pintu gerbang. Kayaknya keadaan aman terkendali, maka segera kututup
pintu gerbang dengan cepat.
“Bunga” panggilku dengan suara
kencang
Tak ada suara menyahut. Tapi dari
arah belakang terdengar suara anjing ngos-ngosan. Mati aku, pasti anjing sialan
itu yang muncul. Leherku kaku, kira-kira butuh waktu lima detik untuk memutar
seratus delapan puluh derajad kebelakang.
“Mamaaaakkkkk…!” teriakku lari
kocar-kacir
Sementara Nando malah asik aja ikut
mengikuti langkah kakiku. Anjing sialan. Kemana nih aku harus lari? Aduh, mana
gak ada pohon tinggi. Antara bingung, ketakutan, aku akhirnya nyungsep ke tong
sampah.
“Gubrakkkk…!”
“Ya Tuhan, Nando” pekik seseorang
dari dalam rumah
Dalam posisi menyedihkan, semua isi
rumah termasuk Titta yang ternyata lagi main kerumah Bunga akhirnya memandangku
dengan tatapan penuh haru. Setengah mati malu aku.
Titta malah udah ketawa ngakak, “Ya
ampun, siapa yang buang Noah sembarangan?”
“Jahat loe, tha. Bukannya bantuin
gue, malah ngetawain”
“Ya lagian elo, orang bertamu itu
yang ada masuk kedalam rumah, bukannya masuk kedalam tong sampah. Gila loe ah,
jorok banget deh”
“Eh, ya udah sini, Noah, aku
bantuin” Bunga mengulurkan tangannya kearahku
“Ya sudah. Masuk dulu saja, nak. Tante ambilin
obat merah buat kamu”
“Ya, makasih, tante”
Walaupun berkenalan dengan cara
memilukan, tapi hari ini aku lumayan beruntung. Bunga mengobati lukaku,
kesempatan megang-megang tangannya yang halus. Gila, aku jadi dibuat
melang-lang buana. Jantungku cekat-cekot, mataku gak berkedip liat cewek
tercantik didunia ini. Rambutnya halus, aroma wangi tubuhnya juga segar. Jauh
dari aroma tubuh Nando yang kayak ikan asin baunya. Idih, amit-amit deh. Mana
itu anjing masih ngeliatin aku. Kayak yang nafsu banget sama aku. Jangan-jangan
setelah ini dia akan kembali mengerjai aku lagi. Dasar anjing resek. Satu-kosong aku dikerjain sama
dia.
***
Satu bulan kemudian…
Melamun ditepian teras, aku akhirnya
berhasil membawa pikiranku jauh dari badanku. Mimpi nikah sama Bunga. Tapi aku
takut mengungkapkan perasaanku. Soalnya Bunga katanya belum mau pacaran. Benar
juga sih kata si Titta. Aku harusnya gak berkhayal terlalu tinggi.
Sedang asiknya melamun, Nando
tiba-tiba terlihat menyalak di depan rumahku. Wah, nantangin aku ini anjing.
Sok imut banget dia berani datang kerumah dan seenaknya bikin keributan. Liat
aja, ku lempar dia pakai batu biar dia minggat dari hadapan rumahku.
“Heh, ngapain loe didepan rumah gue?
Mau ngajak ribut?” tanyaku pada Nando
Nando menarik kaki celanaku pelan.
“Eh, eh, mau ngapain loe?”
Seperti memberi sebuah isyarat.
Nando kemudian berlari dan berulang-kali menyalak. Aku mengerti. Dia ingin aku
mengikutinya.
Setelah sekian menit mengikuti
langkahnya, Nando akhirnya berhenti disebuah tepian lapangan basket dekat rumah
dan terlihat menghampiri seorang perempuan yang begitu sangat kukenal. Bunga?
Ngapain dia ada disini malam-malam?
“Bunga” panggilku pelan
Bunga mendongak keatas. Wajahnya nampak
sedih seperti orang yang baru berhenti menangis, “Ngapain loe disini?” tanyanya
lirih.
“Ye, seharusnya gue yang nanya. Elo
ngapain duduk disini sendirian?”
Bunga diam gak menjawab.
“Nando yang ngajak gue kesini. Dia
tadi yang nyari gue kerumah. Elo ada masalah apa?”
Sekian detik diam, Bunga malah
meneteskan air matanya lagi.
“Nah, nah, bukan karena masalah
permusuhan antara gue sama Nando kan, Bunga? Jangan salahin gue. Si Nandonya
aja tuh yang sok imut sejak pertama kali kita ketemu. Tampangnya tuh bikin gue
geregetan liatnya”
Merasa tersinggung, Nando langsung
menyalak. Oh, si Nando ngerti ucapanku toh?
Bunga tersenyum sedikit. Pelit
banget timbang kasi senyum doang.
“Kenapa sih harus ada Nando diantara
kita? Gue itu gak bisa kalau harus diduain sama dia. Sekarang loe pilih deh,
mau curhat sama Nando apa curhat sama gue?”
Ekspresi Bunga masih datar, “Lebay”
“Ya makanya cerita dong kalau loe
lagi ada masalah!”
“Kalau gue gak mau?”
“Ndo, kepala loe siniin!”
“Eh, mau ngapain loe sama kepalanya
Nando?”
“Kalau loe gak mau cerita, kepalanya
Nando bakalan pindah mental kerumah loe karena tendangan super kaki gue. Ya
kan, Ndo?”
Nando menyalak lagi. Tanda gak
setuju tuh kepalanya yang jadi tumbal.
“Kenapa harus Nando?”
“Ya kalau dia gak ada, kan kita bisa
bebas berduaan. He.”
Bunga tiba-tiba ngikik melihat
ekspresi mukaku waktu menjawab pertanyaannya, “Kayak berani aja loe sama Nando.
Ada juga elo yang tiap hari dikerjain sama dia”
“Et, et, et, apa maksudnya tuh? Gue
selama ini cuma pingin aja ngalah sama Nando. Bagi gue urusan Nando aja mah
kecil”
Kali ini Nando menggeram. Wah,
marahnya udah nyampe ubun-ubun kayaknya. Kalau gak mikirin tentang kesedihannya
Bunga, aku udah lari kocar-kacir kali.
“Abang gue mau ngelanjutin S2 di
Paris, Noah”
“Loh, bagus dong kalau Indra memang
udah punya pemikiran jauh ke masa depan”
“Tapi siapa yang bakalan nemenin gue
ntar kalau dia gak ada?”
“Heh, loe pikir gue, Titta sama
Nando ini patung?”
Bunga kembali tersenyum, “Kenapa sih loe care banget sama gue, Noah?”
“Ya karena gue sayang sama elo”
jawabku spontan. Aduh, keceplosan, “E,
maksud gue, sayang sebagai teman biasa aja”
Ya ampun, salah tingkah deh alamat
jadinya ku sekarang. Wajahku terasa memanas. Apalagi melihat respon Bunga yang
kayak aneh aja dengar aku ngomong kayak gitu.
“Kalau nganggap lebih dari sekedar
teman juga gak masalah bagi gue”
“Hah? Maksud loe?”
“Iya, Noah, selama ini Titta itu
udah banyak cerita tentang loe ke gue. Elo sayang sama gue bukan sebagai teman.
Gimana kalau yang lebih dari sekedar teman?”
Whuaaaaaaa, ini mimpi bukan sih?
Kalau mimpi dimohon untuk tidak membunyikan sesuatu biar aku gak cepat-cepat
bangun. Ya ampun. Gak pernah kubayangkan sebelumnya kalau Bunga bakalan
ngebalas rasa sayangku ke dia.
Diwaktu yang begitu cepat melesat,
kecupan Bunga dipipiku mendarat. Aku kayak kesetrum. Bahagia, senang, riang,
gembira, lalu kemudian kupeluk Nando erat.
“Nando, gue terkatir loe hot dog sekilo habis ini” teriakku
hingga membuat Bunga tersenyum, sementara Nandonya malah kayak gak sudi dipeluk
sama aku. Hah, biarin deh. Kalaupun harus ada Nando diantara aku sama Bunga,
aku bakalan ridho dunia akhirat.


Komentar
Posting Komentar