Hujan Peneduh Matahari
“Betapa
kagetnya Naima, Damian, Bunny, Gilbran dan Raken ketika Danar memberikan
rekaman suara Hujan”
Naima
melihat wajahnya sendiri di depan cermin dengan perasaan yang sungguh menyentuh
bathin paling terdalamnya. Noda membekas yang disebut ruam kini telah berhasil
mengelilingi pipi kanan, melewati hidung dan bersambung di pipi kirinya. Naima
nampak putih pucat. Kantung matanya menghitam bersama kerutan-kerutan yang
sebelumnya memang tidak ada. Ia ingin menangis, tapi toh seember air mata pun
tidak akan menyelesaikan penyakit Autoimmun
Lupus ini. Tak mampu berbuat apapun kecuali terdiam dalam kurungan kursi
rodanya yang melumpuhkan seluruh aktifitas Naima. Bersedih bukan pilihan hidup,
maka dia pun memutuskan pergi saja untuk mencari sedikit kelegaan bernapas.
Kemana pun boleh, yang penting ia takkan mengingat kesedihannya lagi.
Setelah berhasil sampai di depan
pintu kamar, Naima bertemu dengan neneknya.
“Mau kemana kamu, Nay?”
Naima tak menghiraukan pertanyaan
neneknya. Dia lebih memilih menghindar daripada semakin dibuat sakit hati
karena Naima merasa kebahagiaan terbesarnya terenggut oleh orang-tua egois
macam Eyang Ratna dan papanya. Cukup sudah kekasihnya Reno dipisahkan dari
Naima. Sekarang ia tak mau lagi dendam masuk kedalam relung jiwanya.
“Nenek antar kamu” usaha Eyang Ratna
masih tertuju pada Naima.
“Gak perlu” jawab Naima sinis
Papa Naima yang menyaksikan kejadian
itu langsung menegur, “Nay, kamu gak boleh bersikap begitu pada eyangmu. Dia
hanya berniat membantu”
“Oh ya? Kalau begitu aku mau minta
bantuan satu hal sama eyang. Boleh, eyang?”
Senyum Eyang Ratna merekah, “Tentu
saja boleh, nak. Kamu mau dibantu apa?”
“Kembalikan Reno padaku”
Semua langsung terdiam ditempat
mereka berdiri. Setelah puas berulah, Naima akhirnya pergi menuju taman depan
kompleks. Dengan susah payah mendorong kursi roda yang menopang tubuhnya. Tak
gentar, dan Naima kini telah berhasil menempatkan diri dibawah pohon untuk
memanjakan mata dan menikmati angin dingin sore ini. Sangat ramai disini.
Merenung dan mulai mengingat masa
lalu dimana Naima dulu adalah seorang gadis periang dan aktif. Men-drible bola basket adalah kegemarannya.
Jika tidak bertanding three point,
Naima pasti mencoba mengajari anak-anak lain belajar bermain sepatu roda.
Menguasai arena sceat board, lalu malam
harinya latihan free style dan break dance. Semuanya menyenangkan. Tapi
kini sayang sudah tak bisa ia lakukan.
“Whayooo,,,” seseorang membuat Naima
terkejut.
Atau bukan seseorang, melainkan
empat orang.
“Ah elo, Dam, ngagetin gue aja”
“Ya lagian elo bengong”
“Kalian mau ngapain kesini?”
“Yee, tempat umum, mbak. Mau ngapain
kek suka-suka kita”
“Hah, resek loe. Gue nanya serius
nih”
“Hah iya deh. Gue, Gilbran, Raken,
sama Bunny mau latihan free style”
“Loh, bukannya biasanya malam
latihannya?”
“Udah gak dikasi kita latihan
malam-malam sama satpam kompleks. Katanya terlalu berisik, tetangga baru kita
itu tuh, bikin laporan kalau dia merasa terganggu”
“Tetangga baru? Siapa?”
“Yah dia gak tahu. Tiga hari yang
lalu waktu loe dirawat dirumah sakit, pujaan hati loe dan keluarganya udah
balik dari Aussey”
Naima menampakkan senyum dibibirnya,
“Hah, serius loe? Danar udah balik dari Aussey?
Kok loe gak ngasi tahu gue sih, Dam?”
“Alah elo, baru kayak beginian aja
seneng loe. Tadi pagi baru keluar dari rumah sakit, rupa muka loe gak ada
bagus-bagusnya. Pasti nih gara-gara Danar”
“Heh, ada urusan apa loe
nyebut-nyebut nama gue?” Danar muncul tiba-tiba.
“Ya ampun, Danar, long time no see. Apa kabar loe?”
“Baik, Nay. Oh ya, gue bawa
oleh-oleh. Tapi barusan udah gue anterin kerumah loe, dan gue ketemu sama bokap
loe. Bokap loe udah cerita tentang penyakit loe. Setelah itu dia nyuruh gue
nyusul elo kesini”
“Eh, daripada bengong, mending
kalian liatin kita latihan. Yok, Nay, kita pindah tempat” Damian kemudian
membantu mendorong kursi roda Naima menuju pinggir jalan depan kompleks. Naima
masih duduk dikursi roda, sementara Danar duduk ditepian trotoar jalan.
Ditemani dua botol teh dan suara agak sedikit berisik dari anak-anak free style.
“Gue pernah baca tentang penyakit
loe di buku kesehatan bokap gue. Systemic
Lupus Eritemathosus, jenis penyakit Autoimmun
atau kelebihan sistem kekebalan tubuh dimana loe gak boleh kena sinar ultraviolet”
“Wah, pinter loe. Pulang dari Aussey ternyata otak loe encer”
Danar kemudian menatap mata Naima
tajam. Tatapan mata yang gak biasa. Terlihat kekhawatiran mendalam diwajah
Danar dan mengarah pada Naima.
“Nay, gue boleh bilang sesuatu gak?”
Naima mengangguk, “Bilang apa?”
Seperti ingin meneteskan air mata
tapi gak bisa. Danar mengerti benar tentang penyakit yang diderita Naima, dan
dia gak mau kehilangan Naima secepat ini. Dia baru saja pulang dari Aussey. Dia ingin Naima mengabulkan
keinginan atas perasaan yang dia pendam selama ini.
“Elo harus tetap berjuang demi gue”
binar mata Danar tersiar tepat di kedua mata Naima, “Kalau loe nyerah, itu sama
aja artinya loe udah ngebunuh cinta dihati gue”
Naima terhentak, “Hah? Apa loe
bilang?”
“Gue sayang sama loe, Nay”
Spontan Naima jadi salah tingkah.
Bagaimana mungkin dia bilang dia juga sayang pada Danar sementara Reno masih
setia menunggunya hingga saat ini.
Belum selesai rasa tidak percayanya,
pelukan Danar akhirnya mendarat pada tubuh Naima. Tak kuat dia menahan haru
diatas rasa kehilangan paling kuat yang dia rasakan selama ini. Damian,
Gilbran, Raken, dan Bunny yang menyaksikan adegan itu langsung tegap berdiri
memandang kedua sahabat mereka. Diawal mereka juga merasakan hal yang sama.
Tapi kini tidak lagi karena mereka tahu bahwa Naima juga sangat membutuhkan
dukungan. Mereka mampu menghapuskan seluruh kesedihan mereka. Walaupun mereka
tahu mereka akan kehilangan Naima suatu hari nanti.
***
Dilampu merah, Danar bertemu dengan
seorang pengamen jalanan. Danar sangat menyukai suara pengamen itu. Maka ia
putuskan untuk berkenalan.
“Gue Danar” tangan kanan Danar
bersiap menyalami tangan pengamen itu.
“Orang-orang disini biasa manggil
gue Hujan”
“Hujan? Hah, nama loe aneh”
Hujan tersenyum, “Jadi kenapa loe
nyamperin gue?”
“Enggak. Gue dengar suara loe bagus
banget waktu ngamen dilampu merah tadi. Gue mau nembak cewek. Gimana kalau gue
rekam suara loe pas lagi nyanyi. Pasti gebetan gue suka banget denger suara
loe”
Hujan mikir-mikir sebentar.
“Ayo lah, brow. Hitung-hitung amal bantuin orang lain”
“Ok, ok. Tapi jangan nyalahin gue ya
kalau gebetan loe nolak loe nantinya”
“Ya gak lah. Masak gue yang minta
tolong, terus gue nyalahin loe juga?”
“Loe mau gue nyanyiin lagu apa?”
“Terserah loe aja”
Beberapa menit bernegosiasi, Danar
akhirnya mendapatkan suara rekaman Hujan. Gak bisa dipungkiri juga kalau Hujan
adalah seseorang yang sangat baik menurut Danar. Dia bisa dijadikan sosok yang
dikagumi. Terlebih ketika waktu juga terlupakan jika mereka mampu menyambung
obrolan demi obrolan tentang kehidupan. Hari sudah menjelang sore. Lupa waktu,
lupa rumah, Danar akhirnya meminta diri untuk segera pulang.
“Padahal loe orang baik ya, jan.
Tapi sayang orang-tua cewek loe malah misahin loe sama cewek loe cuman karena
loe bukan dari keturunan orang kaya”
“Takdir Tuhan, brow. Gue mungkin bakalan balik suatu saat nanti buat mengejar
cinta cewek gue lagi. Gue yakin dia sebelah hati gue, nar”
“Bagus itu, jan. Gue bantu kalau loe
butuh bantuan”
“Makasi” Hujan tersenyum untuk
kesekian kalinya.
“Ya udah, gue balik dulu ya.
Keasikan sama loe, gue jadi lupa waktu. Thanks
udah mau bantu dan nemenin gue. Besok kalau loe ada waktu, loe temenin gue
ketemu gebetan gue ya, jan? Gue kenalin sama teman-teman gue juga”
Alis Hujan mengkerut, “Hah? Emangnya
kalian mau bergaul sama pengamen jalanan kayak gue? Ntar takutnya gebetan sama
teman-teman loe gak mau nerima gue”
“Pikiran loe tuh. Tenang aja kali,
jan. Mereka gak kayak gitu kok orangnya”
“Ya siapa tahu”
“Ya lah, gue pamit dulu, jan”
Hujan mengangguk.
Pertemuan pertama yang meninggalkan
kesan dihati Danar. Mungkin setelah ini, dia akan banyak belajar tentang
bagaimana cara menjadi seorang anak muda yang berani mempertahankan hidup
sekuat tenaga.
***
Betapa kagetnya Naima, Damian,
Bunny, Gilbran dan Raken ketika Danar memberikan rekaman suara Hujan. Setahu
mereka, lagu yang dinyanyikan dalam rekaman ini adalah lagu ciptaan Reno untuk
Naima. Suara yang bernyanyi pun juga tak diragukan adalah suara Reno. Lalu darimana
Danar mendapatkan suara rekaman ini?
“Dari pengamen jalanan lampu merah
dekat bundaran, namanya Hujan”
“Hujan?” Bunny meyakinkan
pertanyaannya, “Gue yakin kalau ini suara Reno”
“Reno? Reno siapa?”
“Reno itu pacarnya Naima” jawab
Bunny spontan
Danar terhentak. Sementara Damian
telah berhasil menginjak kaki Bunny atas kelancangannya menyakiti hati Danar.
“Hah? Apa?”
Naima tak mampu mempertahankan
kesedihannya. Dia mulai ingat Reno lagi. Seluruh kenangan, cinta, harapan dan
mimpi-mimpi yang mereka bangun berdua adalah hal yang entah mampu dilupakan
atau tidak. Keseluruhan lagu-lagu ciptaan Reno untuknya adalah kebahagiaan
terbesar Naima saat ini. Ingin sekali dia bertemu. Namun Reno sudah terlanjur
mengambil keputusan pergi dari hidup Naima, dan karena ketiadaan restu dari
papa dan eyang Naima.
Tetesan air mata Naima pun mengalir
perlahan, sementara Danar kebingungan menyaksikan Naima yang tiba-tiba
kehilangan senyumannya.
“Anter gue ketemu Hujan sekarang!”
“Tapi, Nay, ini masih jam setengah tiga.
Elo kan gak boleh kena sinar matahari”
“Gak peduli gue. Kalaupun kalian
keberatan, gue bisa suruh supir gue yang nganter”
“J..j..jangan, Nay. Nanti kita yang
kena semprot bokap loe”
Naima mendorong kursi rodanya keluar
dari rumah Damian dengan tujuan pergi menemui orang yang katanya mengaku
sebagai seorang Hujan.
Lima belas menit kemudian mereka
sampai pada tempat tujuan.
“Hujan” panggil Danar hingga membuat
Hujan menoleh, “Ada yang mau ketemu”
“Siapa?”
Damian, Raken, Gilbran dan
Bunny keluar dari mobil, dan itu membuat
Hujan merubah raut wajahnya. Terlebih setelah Naima berhasil dipapah keluar
oleh Danar.
“Sekarang loe udah gak bisa lari,
shob”
Hujan pucat pasi.
“Mengganti nama dengan Hujan gak
bisa bikin loe hilang dari kehidupan Naima”
“Pengecut loe”
Kursi roda Naima bergerak ke depan.
Masih berlinang air mata, Naima mencoba untuk meyakinkan perasaannya. Cinta itu
terkutuk, gak punya perasaan karena harus memaksakan kehendak dari orang yang
katanya mencintai kita, tapi demi Tuhan telah sebegitu besar menghancurkan
kebahagiaan kita dengan mengorbankan orang yang kita cintai. Harga diri diinjak
oleh harta dan tahta. Dua hati dipisahkan oleh sebuah larangan dari raja kaya
raya.
“Hujan?” Naima memandang mata Reno
dalam, “Kenapa?”
Sedih, rasa satu-satunya yang
dirasakan Reno saat ini, “Aku hanya ingin menjadi pelindung ketika Sang
Matahari mulai menyakitimu. Aku ingin menjadi penyejuk hatimu. Penyejuk disaat
kamu terdiam ditengah kurungan penjara istanamu. Penyejuk yang ingin membuatmu
tersenyum tanpa kelalaian untuk menjadikan seluruh tubuhmu kedinginan dan
rapuh. Hujan menunggumu, sayangku. Pergilah ketengahnya dan basahi jiwamu agar
kamu bisa hidup normal kembali dalam semangat keceriaan” Reno bersujud
dihadapan kursi roda Naima, membelai wajah Naima dengan penuh kelembutan. Dia
rindu, bahkan sangat rindu.
“Lalu kenapa kamu pergi?”
“Keadaan yang membuat kita begini,
Nay. Kamu sakit, dan kamu butuh perawatan. Jika kamu memilih aku, maka aku
mungkin gak bakalan mampu menyembuhkanmu hanya dengan cintaku. Aku hanya
seorang pengamen jalanan yang kebetulan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan
kuliah, dan berharga bisa menemukan kamu sekaligus sahabat-sahabat kamu disana.
Orang-tuamu adalah segalanya, Nay. Aku gak ingin merebut kamu dari mereka”
Semua orang dibuat terharu, termasuk
Danar. Dia sadar kalau dia terlambat datang. Tapi dia cukup bahagia melihat
Naima dicintai oleh orang yang benar-benar tepat. Reno tak diragukan pasti
mampu membahagiakan Naima.
“Gue bakalan bantu kalian keluar
dari masalah ini” Danar meyakini perkataannya.
“Danar,” Raken melanjutkan, “Bahkan
gue, Damian, Gilbran sama Bunny aja gak bisa ngelunakin hati bokapnya Naima.
Udah berbagai macam cara”
“Jangan pesimis gitu dong, guys. Gak ada gading yang gak retak kok”
Bunny asal jeplak.
“Hah?” semuanya heran secara serentak.
“A, maksud gue badai pasti berlalu”
“Ooooo”
“Jadi kita-kita bakalan berjuang
demi elo, Nay. Soalnya elo itu saudara cewek kita satu-satunya. Gue yakin elo
bisa sama Reno”
“Benar tuh. Kita bakalan bantu loe
sekuat tenaga” Danar kemudian tersenyum.
Entah apa akhirnya nanti. Namun
semuanya yakin kalau cerita ini bakalan
happy ending. Kekerasan hati sekeras apapun akan diruntuhkan jika Reno dan
Naima mampu memperjuangkan cinta mereka sekuat hati. And really, cinta adalah untuk diperjuangkan.


Komentar
Posting Komentar